Mengendalikan emosi menghadapi anak special

Mengendalikan emosi menghadapi anak special

Mengolah emosi mengahadapi Abk yang mulai remaja
Tanpa aku sadari anaku sebentar lagi akan menginjak remaja, akhir Mei ini usianya menginjak 10 tahun dan aku masih menganggapnya sebagai anak kecil yang manis dan penurut, karena walaupun Fawwaz termasuk anak dengan kebutuhan khusus, namun dia masih bisa aku bimbing, dia anak yang lembut, rajin solat dan sangat penurut, walaupun sesekali memang suka berontak, apalagi kalau sudah urusan memotong rambut, sampai sekarang aku belum bisa membujuknya lagi, begitulah tingkah laku Fawwaz yang sangat manis, rasanya ada yang kurang kalau sehari tidak mencium atau memeluknya.

Namun kemarin aku disadarkan pada kenyataan kalau anaku sudah remaja, anaku mulai berontak di potong kuku tangan dan kakinya, padahal sebelumnya dia tidak pernah begitu, dengan susah payah aku membujuknya, namun sama sekali dia tidak bergeming, kejar-kejaranpun terjadi.
Aku hanyalah seorang ibu dan manusia biasa yang kadang tersulut emosi kala anak specialku mulai melakukan protes, dengan susah payah aku mencoba menasehatinya kalau semua itu perlu untuk kesehatan dirinya, anaku malah menangis dengan sejadi-jadinya, aku sangat sedih sekaligus marah dengan sikapnya kali ini, padahal dia anak yang sangat manis dan penurut sekali, entah kenapa kemarin dia begitu emosional, mungkin karena ayahnya tidak ada, sedang pergi ke Bogor.

Karena dengan cara apapun dia tidak mau, dan terus terang aku sampai memaksanya, kuberikan pukulan kecil pada pantatnya, agar dia mengerti kalau aku benar-benar marah, dia tetap tidak peduli dan menangis sejadi-jadinya, akhirnya aku putuskan untuk diam dulu, sebagai konsekwensinya aku menyembunyikan semua vcdnya, aku ingin memberikan pelajaran kalau aku sangat tidak suka dengan kelakuannya.

Kemudian dia merenung di kamar sendirian, aku biarkan sejenak, aku tidak mau tersulut emosi lagi, biarlah bila keadaan sudah tenang aku akan berdamai lagi dengannya, aku berharap aku bisa menemukan cara yang lebih aman dan nyaman agar anaku mau disiplin kembali seperti dulu, entah apa yang membuatnya sedikit berubah, mungkin dia akan menjelang remaja, aku harus lebih banyak mencari informasi tentang bagaimana menangani masa remaja anak dengan kebutuhan khusus seperti anaku, aku tak mau salah dalam menerapkan bimbingan dan didikan padanya lagi.
Sore harinya saat dia masih mengurung diri di kamar, aku menonton tv, sengaja aku memilih nonton film Shaun The Sheep kesukaannya, Fawwaz mulai mengintip dari balik pintu kamar, aku pura-pura cuek, Fawwaz mendekati lalu aku bilang.

“Faw..kalau mau nonton tv boleh kok asal mau di potong kukunya sama mamah yah..?” dia langsung menutup pintu lagi, aku menarik nafas panjang. Tapi tak berlangsung lama, dia membuka pintu lagi dan mendekati, aku berdiam diri dulu, dengan lembut aku bilang “kalau kukunya panjang…nanti pak guru marahin Fawwaz..” tiba-tiba dia memperhatikan tangannya dan bilang.
“Ini mah..?” aku tersenyum dan mengangguk.
“Iya yang itu..panjang yah..mamah potong yah..!” dengan ragu-ragu Fawwaz memberikan tangannya, dengan hati-hati dan deg-degan aku mulai memotong kukunya, berhasil satu..dia tarik lagi, aku diam dulu..kemudian dia sodorkan lagi jari yang lainnya, dan begitu seterusnya, walaupun agak lambat, akhirnya acara memotong kuku selesai, di bantu dengan menonton kartun kesukaannya..Alhamdulillaah..aku menarik nafas lega.

– Pelajaran yang kupetik dari kejadian kemarin adalah, tatkala anak kita sedang emosi, berusahalah untuk tidak ikut-ikutan emosi, berdiam diri sejenak mungkin bisa membantu, tunggu sampai keadaan tenang. Karena kalau sama-sama emosi, ditakutkan malah akan terjadi hal yang tidak diinginkan.

– Jangan perlakukan anak kita seperti anak kecil terus, karena bagaimanapun dia tumbuh seperti yang lainnya, kadang kita terjebak karena rasa sayang kita yang berlebihan sehingga tidak memperhatikan perasaan hatinya, yang mungkin ingin berontak bila situasinya tidak sesuai keinginannya. Itu mungkin proses dia untuk mandiri.

– Tak ada salahnya bicara dari hati ke hati dengannya, walaupun dia banyak diam, tapi aku yakin hatinya mengerti sekali, kalau kita sangat sayang padanya, dan ingin melakukan yang terbaik untuknya.

– Harus lebih banyak mencari informasi tentang bagaimana menangani Abk yang sudah menginjak usia remaja, itu PR bagiku.

Tak ada niat menggurui di sini, aku hanya ingin berbagi pengalamanku dan ingin mendapat masukan untuk membimbing anaku kedepannya.

Salam Semangat 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s